beranda

Selasa, 29 Oktober 2013

Indahnya Cinta Pertama



 
Lunglai...
Tubuhnya terkulai lemah dengan sisa butiran keringat yang masih tampak berkilauan di dahinya. Perjuangan hidup mati yang menggadaikan jiwa baru saja usai. Semburat pucat di wajah pun perlahan lenyap. Namun ia tersenyum, lalu bibirnya melafadzkan hamdalah.

Tak lama, sosok mungil itu ada di dalam dekapan. Dipeluknya dengan segenap kehangatan kasih sayang, padahal dirinya sendiri masih tampak lelah. Terlihat matanya berbinar-binar senang seraya tak henti-hentinya menyapa buah hati tercinta. Tetes air bening pun mengalir dari sudut mata, air mata bahagia.

ORIENTALIS DAN SEJARAH INDONESIA

Sejarah membuktikan, penjajah Belanda datang ke Indonesia bukan hanya mengeksploitasi kekayaan alam. Tapi, mereka juga berharap bisa menghilangkan pengaruh Islam terhadap bangsa Indonesia. Bersama para orientalisnya, kaum kolonial Belanda berusaha memperkecil arti dan peran Islam dalam sejarah Melayu-Indonesia. Dalam bukunya Nederland en de Islam (hlm. 1), tokoh orientalis Belanda, Christian Snouck Hurgronje mengatakan bahwa Islam baru masuk ke kepulauan Indonesia pada abad XIII setelah mencapai evolusinya yang lengkap. Snouck Hurgronje juga menyatakan dalam bukunya, Arabie en Oost Indie (hlm. 22), bahwa orang Islam di Indonesia sebenarnya hanya tampaknya saja memeluk Islam dan hanya di permukaan kehidupan mereka ditutupi agama ini. Ibarat berselimutkan kain dengan lubang-lubang besar, tampak keaslian sebenarnya, yang bukan Islam. Orientalis lain, J.C. Van Leur, bahkan menyimpulkan bahwa Islam tidak membawa perubahan mendasar sedikit pun di kepulauan Melayu-Indonesia dan tidak juga perabadan yang lebih luhur daripada peradaban yang sudah ada. 

Dalam Bahtera KAMMI Aku berdiri

Dalam Bahtera KAMMI aku Berdiri
Oleh: Dian
بسم الله الر حمن الر حيم


Sahabat.. kata-kata yang ku rangkai kali ini, bukanlah aku tujukan untuk menjatuhkan atau menyindir orang lain.. Betapa tanpa disadari, kebanyakan orang memandang 'sesuatu' hanya dari satu sisi saja. Banyak perbedaan-perbedaan yang orang lain tidak mampu untuk menerimanya walaupun memiliki arah dan tujuan yang sama.

Risalah Hati Amira

Oleh : Emilia Rohmawati

Seperti biasa cuaca di kotaku ini selalu didominasi oleh rombongan air berkah dari langit. Terkadang turun sore hari bahkan tak jarang awet sampai hampir sehari penuh. Seperti tadi malam hujan turun deras dan membuatku tidur dengan pulasnya memeluk guling dan selimut. Untung saja aku masih mendengar suara Bapak pengurus masjid mengumandangkan adzan subuh yang membangunkanku pagi itu. Bapak itu bernama Iman, umurnya sudah hampir 60 tahun, punggungnya terlihat agak membungkuk. Sempat tersirat dalam benakku, “kemana kah para remaja? Sehingga Bapak tua itu yang harus mengumandangkan adzan.” Bukan bermaksud negative thinking tapi cukup sedih aku melihatrnya setiap pagi buta Bapak itu sudah menapaki kakinya di lantai masjid yang ku yakin rasanya masih begitu dingin.

Belajar sabar dari nabi ayub AS


Alkisah, Nabi Ayyub A.S. (Prophet Jop) adalah satu seorang keturunan dari Nabi Ibrahim A.S. dan keponakan dari Nabi Yakub A.S. Dia dikirim untuk mereformasi orang-orang yang tinggal di padang pasir yang terletak di sudut timur laut Palestina.

Ketika Ayyub dipilih menjadi Nabi, ia mulai mengajar orang tentang Allah dan agama-Nya. Beliau menyarankan orang-orang untuk berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat. Seperti biasa, sebagaimana dengan para nabi lainnya, pada awalnya sangat sedikit orang yang percaya kepadanya namun secara bertahap jumlah pengikutnya mulai meningkat.
Nabi Ayyub A.S adalah seorang yang kaya raya dan sejahtera dengan iman yang sangat teguh kepada Allah. beliau memiliki peternakan yang luas, kekayaan yang berlimpah, ternak yang banyak dan harta berharga, tetapi hal tersebut tidak membuatnya sombong. Kekayaannya merupakan media baginya untuk mencari karunia Allah SWT.